Notification

×

Iklan

Iklan

Sosok Andreas Hugo Pareira, Yang Disebut Bersih Dari Korupsi Oleh Mahfud MD

Sabtu, 03 Juni 2023 | Juni 03, 2023 WIB | 0 Views Last Updated 2023-07-10T16:31:35Z
Sosok Andreas Hugo Pareira, Yang Disebut Bersih Dari Korupsi Oleh Mahfud MD
Andreas Hugo Pareira,  Foto: Vidhy/nr | Taputardotcom
Taputardotcom - Untuk mencapai sesuatu yang besar dan dipandang baik oleh banyak orang bukanlah hal yang mudah. Untuk menjadi seorang politisi yang dikenal dan dipercaya oleh masyarakat dan memperoleh berbagai jabatan itu hal yang sulit bagi seorang politisi.

Begitu juga dengan seorang anggota DPR RI dari Partai berlambang Banteng ini, Andreas Hugo Pareira. Pria kelahiran Flores, NTT, 31 Mei 1964 ini memulai karir di dunia Politik dengan penuh perjuangan, hingga kini masih duduk di Wakil Rakyat di Senayan walaupun tidak memiliki latar belakang politik dalam keluarga. Ia dibesarkan dalam keluarga guru.

Siapakah Andreas Hugo Pareira


Andreas Hugo Pareira menjadi seorang politisi yang sangat dikenal di Indonesia. Ia merupakan salah satu sosok anggota DPR RI yang disebut oleh Prof. Mahfud MD (Menkopolhukam) bersih dari Korupsi.

Menurut Mahfud MD, DPR adalah tempat dimana terdapat banyak sekali praktek-praktek korupsi. Jadi untuk menjadi seorang politisi yang bersih dari korupsi adalah hal yang sangat susah bagi seorang anggota DPR.

Andreas Dibesarkan Dalam Keluarga Guru


Dilahirkan di Maumere, Kabupaten Sikka oleh ibunya bernama Priscilla da Silva dari kota Maumere dan ayahnya Jeremias Pareira dari kampung Sikka.

Ia sudah terbiasa dengan kehidupan di lingkungan pendidikan dirumahnya sejak kecil. Ia disekolahkan di Maumere di SD Katolik I Maumere pada tahun 1970.

Kebahagian dimasa kecilnya sempat terganggu sejak ditinggal oleh ibunda yang sangat mencintai dan mengasihinya, ia harus berduka ketika masih usia sembilan tahun dan duduk di kelas empat SD.

Ia kemudian melanjutkan sekolah di SMP Seminari Yohanes XXII pada tahun 1976. Sekolah dan Asrama calon Pastor di Kampung Lela, sekitar 24 kilo meter dari Kota Maumere. Di seminari inilah Andreas belajar hidup mandiri dan disiplin mengikuti aturan di seminari. 

Andreas berencana setelah meninggalkan seminari Lela tahun 1979 tidak akan melanjutkan pendidikan ke Seminari Mataloko, Ngada - Bajawa. Ia ingin malanjutkan pendidikan ke tingkat SMA dan memilih untuk berangkat ke Jakarta untuk sekolah dan mencari pengalaman baru.

Sehingga tahun 1979 atas restu sang ayah, Andreas mulai menjalani kehidupan diluar pulau Flores yakni di Jakarta. Menjadi pengalaman yang tak terlupakan, ketika hanya bermodalkan celana pendek dan satu tas ransel dan sedikit uang dari orang tua, Andreas yang masih berumur lima belas tahun menumpang Kapal Perintis Niaga XIII meninggalakan Pulau Flores.

Tepat Juli 1979, Andreas menjadi sisw di SMA St. Fransiskus Asisi di Tebet. Di sekolah inilah ia menjadi salah satu remaja Metropolitan yang hidup di masa pemerintahan Presiden Soeharto.


Karir Politik dan Pendidikan


Andreas kemudian melanjutkan pendidikan ke level Perguruan Tinggi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) jurusan Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahiyangan tahun 1982.

Ia juga aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan pernah menjadi ketua Senat Mahasiswa Fisip Unpar 1984-1985.

Andreas juga aktif dalam Organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional (GMIN) sejak tahun 1984 dan terus mengasah diri di luar mainstream politik yang dikuasai rezim Orde Baru.

Sehingga tahun 1986, Andreas mendapatkan gelar sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Katolik Parahyangan Bandung.

Banyak pihak mendorong untuk Andreas melamar ke Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) termasuk Pamannya yang merupakan salah satu pejabat di kementrian di Jakarta dan juga salah seorang tokoh nasional asal NTT, yakni Ben Mang Reng Say.

Walaupun banyak pihak yang mendorongnya untuk melamar ke Kementeian luar negeri, Andreas tetap saja ingin memilih jalannya sendiri untuk tetap berada di luar pemerintahan Orde Baru.

Impiannya ke Luar Negeri Tercapai


Sejak kecil ia sudah bercita-cita ke luar negeri untuk melihat dunia lebih jauh dan mencari pengalaman baru. Baginya memang bukan hal yang mudah untuk mewujudkan impian itu.

Ia juga menyadari keadaan orang tuanya tidak mungkin memfasilitasinya ke luar negeri, untuk sekolah di Jakarta saja orang tuanya harus berhemat. Andreas sendiri berupaya untuk mendapat beasiswa dari kampusnya.

Profesi yang menurutnya sesuai dengan bidang atau keilmuannya yang bisa memberinya kesempatan untuk kuliah di luar negeri adalah adalah menjadi dosen dan wartawan.

Ia sempat menjadi penulis artikel di beberapa media dan pernah berkesempatan untuk ikut seleksi test di Harian Kompas dan lulus.

Namun ia lebih memilih untuk menjadi asisten dosen di alma maternya Universitas Katolik Parahyangan. Pada saat itu ia lulus secara bersamaan dengan diterima di Harian Kompas.

Tahun 1992, Andreas mendapat beasiswa dari Katholischer Akademischer Auslaender Dienst (KAAD) untuk kuliah di Jerman. Itu adalah yayasan yang didirikan oleh konsorsium para Uskup Jerman. Yayasan itu seperti KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) di Indonesia.

Ia menikah dengan Chatarina Veronika Dwi Indrawati Pareira yang merupakan dosen di FISIP Universitas Parahyangan sebelum ia dan istrinya berangkat ke Jerman pada tahun 1992.

Istrinya memperoleh beasiswa dari KAAD untuk studi S2 di Universitaet Konstanz, sedangkan Andres belajar di Universitaet Pasau pada bidang studi Asia Tenggara.

Januari 1996, Andreas lulus ujian thesis dengan predikat yang memuaskan dan mendapat gelar MA (Magister Artium) bidang politik di Asia Tenggara. Sekitar pertengahan tahun 1996, Andreas, istri dan putranya kembali ke Indonesia dan mengabdi kepada alma maternya di Universitas Parahyangan.

Setelah di Indonesia, Andreas berkumpul lagi dengan rekan-rekannya sewaktu aktif di GMNI dan sepakat untuk mendukung penuh perjuangan Megawati dan bergabung dengan PDI Pro Mega Jawa Barat.

Ia kemudian menjadi Sekretaris Litbang DPD PDI Pro Mega Jawa Barat. Ia terlibat langsung dalam kegiatan partai hingga terpilih menjadi fungsionaris DPD PDI Pro Mega.

Waktu terus berjalan dan Andreas Hugo Pareira pun terus mendapat kepercayaan hingga menjadi Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan di kampus.

Mengingat tahun 1998, Andreas Hugo Pareira memotori dan mengundang tokoh-tokoh politik pro reformasi seperti Marsilam Simanjuntak dan Sabam Sirait untuk masuk ke kampusnya dan berorasi di hadapan mahasiswa yang siap turun aksi ke jalan.

Setelah berakhir rezim Soeharto, Ia kembali menjalankan tugas dan pekerjaannya sebagai pembantu Dekan di Universitas Parahyangan.

Sementara aktifitasnya dalam politik, Ia dipercaya menjadi sekretaris Pappuda (Panitia Pemenangan Pemilu Daerah) PDI Perjuangan Jawa Barat. Dimana saat itu PDI Pro Mega sementara berproses menjadi PDI Perjuangan.

Meski sudah menjadi bagian dari PDI Perjuangan, Andreas belum memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari daerah pemilihan Jawa Barat. Justru Ia memilih mempersiapkan untuk melanjutkan studi ke Jerman lagi pada saat rekan-rekannya dilantik jadi anggota DPR-RI pada tahun 1999.

Andreas menuju Jerman pada April tahun 2000 untuk melanjutkan studi S3 nya di Jerman di Universitaet Giessen, dibawah bimbingan Profesor Reymud Seidelmann.

Pertengahan Mei 2003 Andreas menyelesaikan disertasinya tentang ASEM (Asia-Europe Meeting) yang kemudian di uji oleh professor dari Universitas Giessen dan lulus dengan predikat cum Laude atau sangat memuaskan. 

Setelah sukses meraih gelar doktor dalam bidang Ilmu Politik, dia kembali ke Indonesia pada Juli 2003 sebelum pemilu 2004 dan melanjutkan perjuangannya di partai PDI Perjuangan di Jawa Barat.

Ia bertarung menjadi Calon Anggota Legislatif pada Pemilu 2004 mewakili Daerah Pemilihan Bogor. Ia tidak langsung terpilih namun melalui mekanisme pergantian antar waktu kemudian lolos ke Senayan mewakili rakyat Jawa Barat. 

Peran Andreas Hugo Pareira Bagi Nusa Tenggara Timur (NTT)


Pada aspek fungsi Andreas menjadi anggota DPR-RI mewakili daerah pemilihan NTT-1 (Flores-Lembata-Alor). Ia memperjuangkan porsi anggaran yang cukup dari pemerintah pusat untuk pembangunan Pendidikan dan Pelatihan Kerja, Pembangunan infrastruktur terutama kebutuhan dasar seperti air minum, irigasi, listrik dan jalan raya.

Andreas juga melihat potensi alam dan budaya yang khas untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata yang terintegrasi. Sejalan dengan program pemerintah pusat yang sedang gencar membangun Labuan Bajo menjadi Wisata Super Premium.

Labuan Bajo akan menjadi pintu masuk untuk Flores - Lembata dan Alor, yang merupakan daerah dengan banyak destinasi wisata yang indah dan unik seperti Waerebo, Danau Kelimutu, Teluk Maumere, Samana Santa, Perburuan Ikan Paus Tradisional dan Kawasan Teluk Mutiara di Alor.

"Destinasi Terpadu Floratama (Flores - Lembata -Alor - Bima) didukung oleh masyarakat yang ramah terhadap wisatawan sangat mendukung keunikan dan keindahan Labuan Bajo yang menjadi surga bagi Wisatawan dalam negeri maupun manca negara.
×
Berita Terbaru Update